Selasa, 24 Juni 2014

Raungan Intimidatif Porsche Panamera

Tak biasanya Porsche menciptakan sedan mewah empat pintu. Namun jangan salah, `perangainya' tetap galak sesuai ciri khas Porsche.
SEJAK awal Ferdinand Porsche sengaja menciptakan mobil sport untuk memenuhi ledakan adrenalin penyuka balap. Akan tetapi, anggapan bahwa mobil sport hanya bisa dinikmati berdua kini ditepis dengan hadirnya Porsche Panamera.
Nama Panamera diambil dari turunan garis Carrera yang terinspirasi dari ajang balap legendaris Panamericana Race. Kendaraan ini hadir dalam sosok sedan mewah bergaya coupe empat pintu. Penutup bagasi belakang menyatu dengan kaca belakang sehingga bisa dibilang Panamera merupakan sedan fastback/liftback.

Melihat sosok Porsche Panamera yang menjanjikan sensasi balap membuat Media Indonesia sulit menolak tawaran PT Eurokars Artha Utama untuk melakukan test drive.

Kala memasuki interior, kami disambut tampilan dashboard khas Porsche dengan 3 dial dengan tachometer di bagian tengah memiliki ukuran lebih dominan seperti pada model legendaris 911. Dial sebelah kiri diisi spidometer dengan angka mentok di 330 km/jam, sedangkan dial paling kanan merupakan layar GPS dan multi-information display.

Interiornya didominasi balutan kulit warna burgundy, perpaduan antara cokelat dan merah red wine yang dikombinasi ornamen berwarna black piano. Balutan kulit tersebut membungkus hingga ke konsol tengah besar yang membelah ruang interior menjadi dua untuk empat penumpang.

Awalnya, konsol yang lebar dipenuhi tombol pengatur itu terasa membuat penumpang di belakang tersekat-sekat.
Namun, setelah merasakan duduk di jok belakang, baru kami merasakan adanya aura individual yang memang dibutuhkan pemiliknya.
Bagi para pengguna Porsche lain, mungkin akan terasa aneh berada di jok belakang sebuah kendaraan berlogo tameng bertuliskan `PORSCHE-Stuttgart'. Pasalnya, Porsche identik dengan mobil sport yang hanya mengakomodasi dua penumpang, maksimal dengan layout 2+2, bukan sosok sebuah sedan mewah seperti ini. Tak mau membuang waktu, kunci kontak pun kami putar dan seketika terdengar raung an mesinnya yang singkat, seolah ingin menunjukkan potensi di balik tampilannya yang mewah sekaligus sporty.
Panamera S berkelir putih pun kami arahkan ke kawasan BSD Tangerang melintasi ruas tol menuju Merak. Di perjalanan, kami mencoba merasakan manfaat dari mode pengendara yang di antaranya comfort, sport, dan sport plus.

DNA sport Cita rasa sebuah sedan mewah begitu terasa saat kami memilih mode `comfort' lewat gerakan kendaraan yang begitu lembut merespons permukaan jalan keriting dan bergelombang. Di sebuah jalan yang lumayan sepi, kami mencoba menekuk sebuah bundaran sambil membenamkan pedal gas menuju tepian batas kemampuan ban menahan lateral force.

Lengkingan suara gesekan ban dengan lantai semen terdengar disertai goyangan mobil yang sedikit terasa berlebihan walaupun tetap terkendali berkat adanya fitur stabilitas elektronik.

Kami memang memaksakan diri untuk tetap berada pada mode pengendaraan comfort. Setelah mode pengendaraan dipindah ke mode sport plus, barulah cita rasa Porsche yang sesungguhnya bisa dinikmati.
Memang sedikit terasa rigid. Namun saat melibas tikungan, terutama pada kecepatan tinggi, mode ini jauh lebih terasa nikmat dengan mengurangi ketinggian hingga 25 mm yang diatur oleh Porsche Active Suspension Management (PASM) yang mampu menyesuaikan kondisi jalanan.

Adanya pilihan mode pengendaraan tersebut juga menjadikan Panamera S menjadi sebuah sosok sedan mewah yang memiliki beberapa kepribadian.

Contohnya, saat melintas di kepadatan ruas tol, mobil yang dibanderol mendekati Rp4,5 miliar itu bisa saja menjadi `anak baik-baik' dengan mengikuti antrean dan larut dalam kemacetan.
Namun bila ada sedikit celah dan jarak, perangai aslinya sebagai kendaraan ber DNA sport akan menyeruak keluar tanpa bisa terbendung.

Begitu ada sedikit celah dan kesempatan, pedal akselerator Panamera S kami benamkan ke lantai, mesin V6 3.0 liter twin-turbocharged bertenaga 420 hp pada 6.000 rpm segera menderu intimidatif dan kendaraan pun melesat bak jet tempur lepas landas dari kapal induk.

Ketika melongok spesifi kasinya, untuk mencapai 100 km/jam kendaraan ini hanya butuh 5,1 detik. Sementara itu, kecepatan maksimalnya bisa menyundul 287 km/ jam. Pantas saja aksi tadi begitu mudah dilakukan.
Dengan torsi maksimalnya sebesar 520 Nm pada 1.750-5.000 rpm yang relatif lebih rendah, dampaknya ada pada konsumsi bahan bakar yang bisa diklaim mampu menempuh 11,49-11,23 km untuk setiap liter bensin.

Kemampuannya itu juga tidak lepas berkat transmisi otomatis PDK (Porsche Doppel Kupplungsgetriebe/dual-clutch) 7-speed yang mampu mengatur perpindahan gigi secara akurat dan cepat sehingga mampu meningkatkan performa sekaligus efisiensi bahan bakar.
Melaju pada kecepatan tinggi juga tetap pede berkat kemampuan remnya yang tidak kalah ampuh, bahkan cenderung sangat sensitif. (Cdx/S-2) Media Indonesia, 12/06/2014, halaman 22-23